Text
Sisi lain diponegoro
WAKTU saya tiba di Yogyakarta pada Desember 1971 sebagai pe neliti muda dari Universitas Oxford untuk memulai studi lapangan tentang Pangeran Diponegoro (1785-1855) dan Perang Jawa (1825-30), saya sempat bertemu beberapa kali dengan guru besar sejarah Indonesia di UGM (Universitas Gadjah Mada), Profesor Sartono Kartodirdjo. Saya sangat menghormati jasa Pak Sartono sebagai seorang sejarawan dan pribadi manusia yang bermoral tinggi. Integritas beliau sebagai akademisi selama periode Orde Baru (1966-1998) teruji dengan keputusannya menjauhkan diri dari tugas sebagai pemimpin redaksi untuk jilid VI Sejarah Nasional Indonesia (zaman Jepang, 1942-1945, dan era pascamerdeka, 1945-1975) yang penuh kontroversi itu. Sikap ini berbeda dengan jurusan sejarah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia di bawah pimpinan pendukung Orde Baru, Profesor Nugroho Notosusanto, di mana ruang gerak intelektual para sejarawan UI dipersempit oleh politik memihak sang Rektor. Profesor Sartono dengan tegas dan bijaksana mempertahankan objektivitas sivitas akademika
| N 124 | Tersedia - Bahasa Indonesia |
Tidak tersedia versi lain