Text
Ayahku Bukan Pembohong
AKU berhenti memercayai cerita-cerita Ayah ketika umurku dua puluh tahun. Maka malam ini, ketika Ayah dengan riang menemani anak-anaku, Zas dan Qon, menceritakan kisah-kisah hebatnya pada masa mudanya, aku hanya bisa menghela napas tidak suka. Ingin sekali menyela, bilang bahwa Zas dan Qon harus segera tidur, besok mereka harus bangun pagi-pagi, serta bertumpuk alasan lainnya, mulai dari yang masuk akal hingga yang dibuat-buat. Sayangnya, istriku sudah dua kali memberikan kode di balik buku tebal yang sedang dibacanya. Kode itu bilang dengan tegas, biarkan Ayah menikmati sedikit waktu dengan kedua cucu menggemaskannya. Ayah tertawa, terbatuk sedikit. Zas dan Qon, seperti yang kuduga, bergegas berebut mengambilkan gelas air minum, sama seperti waktu aku dulu masih terbilang anak-anak, yang juga semangat memijat Ayah, mencabuti uban Ayah (yang baru satudua, jadi susah dicari), atau mengerjakan pekerjaan rumah,
1 Zas dan Qon pustaka-indo.blogspot.com
6
seperti menyapu, mengepel, melakukan apa saja yang disuruhnya, harga atas kisah-kisah hebat itu. ”Kalian tahu si Nomor Sepuluh, bukan?” ”Yang mencetak gol tadi malam, Kek?” Mata Zas membulat. ”Qon tahu, Qon tahu,” bungsuku beringsut menyikut kakaknya, ”yang jago melewati tiga bek lawan sekaligus kan, Kek? Zig-zag kiri-kanan, hop mengecoh kiper, dan GOL! Si Nomor Sepuluh!” Qon meniru gaya idolanya selepas menceploskan bola ke gawang lawan. ”Yeah!” Ayah ikut melakukan gerakan yang sama, tertawa, ”Sstt, jangan bilang siapa-siapa, Kakek akan menceritakan rahasia besar pada kalian.” ”Rahasia apa?” Zas dan Qon tertarik—tidak ada anak-anak di atas dunia yang tidak tertarik dengan rahasia. ”Tetapi jangan bilang ke siapa-siapa.” Dua anakku menggeleng kuat-kuat. ”Janji?” Ayah mengangkat tangannya. ”Janji.” Zas dan Qon sigap ikut mengangkat tangan. Ayah tertawa, lantas berbisik, ”Dua hari lalu si Nomor Sepuluh menelepon Kakek langsung.” ”Sungguh?” Mata Zas dan Qon langsung membesar. ”Kakek tidak sedang bergurau, kan?” ”Tidak, tentu saja Kakek tidak bergurau.” Ayah pura-pura menepuk dahi, pura-pura tersinggung. ”Kakek bahkan bilang padanya kalau di rumah kita ada dua monster kecil yang suka sekali bermain bola, yang mengidolakan klub terhebat, juga pemain terhebat di dunia. Dan kalian tahu apa yang si Nomor Sepuluh katakan setelah mendengar itu?
| N 102 | 813 TER a | Tersedia - Bahasa Indonesia |
Tidak tersedia versi lain